MANTRA BANJAR: SUATU KOMPROMI BUDAYA

Main Article Content

Agus Yulianto

Abstract

Abstrak. Tulisan ini membahas perkembangan kebudayaan Banjar yang ditinjau dari peranan ‘mantra’. Mantra
adalah rangkaian kata yang diucapkan untuk melakukan praktek magis. Mantra Banjar tumbuh dan berkembang
di wilayah tenggara Kalimantan. Pertumbuhan dan perkembangan mantra Banjar sejalan dengan perkembangan
pendukungnya, yaitu masyarakat Banjar. Pada awalnya, mantra Banjar lahir dari karya seni ciptaan leluhur
imajinatif Banjar yang percaya pada animisme atau kepercayaan Kaharingan. Kedatangan komunitas Jawa dan
Malayu yang berlatar ideologis Siva-Buddha membawa warna baru untuk mantra. Kemudian, ketika Islam
datang, agama baru ini menolak semua jenis mantra, penolakan ini mempengaruhi keberadaan mantra Banjar.
Akibatnya, praktek ritual dengan mantra Banjar menurun, karena Islam mencapai popularitas yang luas. Namun,
ternyata ada pula kesengajaan untuk menyembunyikan mantra untuk menjaga efek sakral dari mantra.
Bagaimanapun, mantra tidak benar-benar menghilang. Sebagai warisan budaya Banjar, mantra masih menjadi
bagian dari kehidupan mereka, mantra hidup dan tumbuh di antara orang-orang sampai hari ini.

Article Details

How to Cite
Yulianto, A. (1). MANTRA BANJAR: SUATU KOMPROMI BUDAYA. Naditira Widya, 5(2), 133-140. https://doi.org/10.24832/nw.v5i2.72
Section
Articles