PESAN GENDER PADA RELIEF-RELIEF CANDI SUKUH: FEMINISME MELALUI PENDEKATAN TUBUH DAN SEKS [GENDER MESSAGES IN THE RELIEFS OF CANDI SUKUH: FEMINISM BY APPROACHES OF BODY AND SEX]

Main Article Content

Karisma Putri Miranti
Agus Setiawan

Abstract

Penelitian ini difokuskan untuk menguraikan pesan-pesan yang terkandung dalam relief-relief Candi Sukuh yang dianggap tabu. Studi ini dilakukan karena Candi Sukuh dapat menjadi bukti bahwa jauh sebelum adanya gerakan feminisme, masyarakat berlatar agama Hindu-Buddha pada masa lampau telah mengakui perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Perbedaan tersebut merupakan suatu konstruksi sosial yang dimengerti dalam hubungan kompromi laki-laki dan perempuan. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif-interpretatif, dan data dianalisis dengan pendekatan multidesain. Teori Ikonografi digunakan untuk menganalisis pesan dari relief-relief Candi Sukuh, sedangkan teori feminisme diterapkan dengan pendekatan tubuh, seks, dan gender. Hasil penelitian menunjukkan adanya pesan feminisme pada relief kidung Sudhāmālā, relief linggā dan yoni, dan relief kālāmĕrgā. Kesimpulannya pesan gender yang disajikan di relief-relief Candi Sukuh berupa penolakan perempuan terhadap pengobjekan tubuhnya oleh laki-laki, yang dianggap memiliki otoritas terhadap tubuh perempuan.


This research is focused to describe the messages contained in the reliefs of Candi Sukuh, which are considered taboo. This study was conducted because Candi Sukuh may well be an evidence that long before the existence of the feminism movement, the Hindu-Buddhist communities in the past have recognized differences between men and women. Such difference is a social construct which was understood in terms of compromising relations between men and women. The method used in this research was descriptive-interpretive, and data were analyzed using a multi-design approach. Theories of iconography were used to analyze messages of the reliefs of Candi Sukuh, whereas the theory of feminism was applied using approaches of body, sex and gender. Research results showed messages of feminism are contained in the Sudhāmālā hymn, reliefs of linggā and yoni, and the kālāmĕrgā relief. Conclusively, gender messages presented by the reliefs of Candi Sukuh informs the rejection of objectification of women’s body by men, who are considered to have authority over women's bodies.

Article Details

How to Cite
Putri Miranti, K., & Setiawan, A. (2020). PESAN GENDER PADA RELIEF-RELIEF CANDI SUKUH: FEMINISME MELALUI PENDEKATAN TUBUH DAN SEKS [GENDER MESSAGES IN THE RELIEFS OF CANDI SUKUH: FEMINISM BY APPROACHES OF BODY AND SEX]. Naditira Widya, 14(1), 19-34. https://doi.org/10.24832/nw.v14i1.409
Section
Articles

References

Asmalasari, Devyanti. 2013. “Eksistensi Perempuan Tionghoa Dalam Novel Samita: Bintang Berpijar Di Langit Majapahit Karya Tasaro (the Existence Chinese Woman in Samita Novel:“Bintang.” Metasastra 6(1):1–9.

Cholis, Henry. 2019. Makna Lingga Yoni di Pintu Gerbang Candi Sukuh. Surakarta: Institut Seni Indonesia Surakarta.

Dalimoenthe, Ikhlasiah. 2011. “Perempuan Dalam Cengkeraman HIV/AIDS: Kajian Sosiologis Feminis Perempuan Ibu Rumah Tangga.” Jurnal Komunitas 5(1):41–48.

Dewi, Saras. 2013. “Budaya Erotika Timur.” Jurnal Our Voice Indonesia: 1-3

Djoeffan, Sri Hidayati. 2001. “Gerakan Feminisme Di Indonesia: Tantangan Dan Strategi Mendatang.” Mimbar: Jurnal Sosial Dan Pembangunan 17(3):284–300.

Gunawan, Aditia. 2016. “Produksi Naskah Dan Mistisisme Aksara Dalam Bhīma Svarga.” Manuskripta 6(1):11–39.

Hidayati, Siti Nurul. 2006. “Optimalisasi Situs Candi Sukuh Dan Candi Cetho Dalam Pengembangan Pariwisata.” UNS (Sebelas Maret University).

Kieven, Lydia. 2014. “Simbolisme Cerita Panji Dalam Relief-Relief Di Candi Zaman Majapahit Dan Nilainya Pada Masa Kini.” in A seminar paper ‘Cerita Panji Sebagai Warisan Budaya Dunia, Seminar Naskah Panji’in Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Jakarta, 28/29 October 2014).

Mufida, Riha Rahma. 2013. “Cerita-Cerita di Balik Candi Sukuh Sebagai Pemerkaya Cerita Drama Tradisional.” Proceeding 1(1):13–24.

Munandar, Agus Aris. 2004. “Karya Sastra Jawa Kuno yang Diabadikan Pada Relief Candi-Candi Abad Ke-13—15 M.” Makara Seri Sosial Humaniora 8(2): 54-60.

Panofsky, Erwin. 1979. Meaning In The Visual Arts: Papers In And On Art History. Chicago: The University of Chicago Press.

Prabasmoro, Aquarini Priyatna. 2006. Kajian Budaya Feminis: Tubuh, Sastra, dan Budaya Pop. Yogyakarta: Jalasutra.

Purwadi dan Eko Priyo Purnomo. 2008. Kamus Sansekerta Indonesia. Yogyakarta: Budaya Jawa

Saringendyanti, E. 2008. “Candi Sukuh Dan Ceto Di Kawasan Gunung Lawu: Peranannya Pada Abad 14–15 Masehi.” Makalah Hasil Penelitian. Bandung: Universitas Padjadjaran.

Savitri, Mimi. 2012. “Bias Gender: Masalah Utama Dalam Interpretasi Arkeologi.” Jurnal Humaniora 19(2):161–67.

Setiawan, Restu Budi, Sahid Teguh Widodo, dan Suyitno Suyitno. 2018. “Kajian Struktural Wanda Wayang Durga Dalam Perspekstif Cerita Pewayangan Sudamala Dan Budaya Jawa (Structural Study of Wanda Wayang Durga in Perspective of Sudamala Puppet Story and Javanese Culture).” Widyaparwa 46(1):17–29.

Soetarno, R. 1986. Aneka Candi Kuno Di Indonesia. Dahara Prize.

Tim Kepustakaan Candi. 2014. “Candi Sukuh (Jawa Tengah)-Kepustakaan Candi.” Perpusnas 1. Diunduh 9 Februari 2020 (https://candi.perpusnas.go.id/temples/deskripsi-jawa_tengah-candi_sukuh).

Tim Penyusun, KBBI. 2008. “Kamus Besar Bahasa Indonesia.” Jakarta: Balai Pustaka
Wawan, Putu. 2015. “Lingga Yoni.” Parisada Hindu Dharma Indonesia 1. Diunduh 8 Februari (http://phdi.or.id/artikel/lingga-yoni).

Wirakusumah, Indri A. 2017. “Langgam Arsitektur Candi Sukuh.” Media Matrasain 14(1):49–60.

Wollstonecraft, Mary. 1995. Wollstonecraft: A Vindication of the Rights of Men and A Vindication of the Rights of

Woman and Hints. United Kingdom: Cambridge University Press.

Zoetmulder, Petrus Josephus dan Stuart O. Robson. 1995. Kamus Jawa Kuna-Indonesia: PY. Vol. 2. Jakarta Perwakilan Koninklijk Instituut voor Taal, Land-, en Volkenkunde: PT. Gramedia Pustaka Utama.