ORNAMEN DAN PERWUJUDAN BALUNTANG

Main Article Content

nfn Wasita

Abstract

Baluntang, an iron wood statue, is one of important complements in a secondary burial ceremony among Dayak Kaharingan believers. Baluntang simbo/izes the death spirit who has travelled to paradise. Technically, the function of baluntang is as a sacrificed animal pole, while religiously, the function of baluntang is as a place for the spirit to stop in when their relatives call it. As a whorship media, balun tang also has ornaments possessing supernatural qualities and animal motifs usually relate to the creation myths.

Article Details

How to Cite
Wasita, nfn. (1). ORNAMEN DAN PERWUJUDAN BALUNTANG. Naditira Widya, 1(2), 214-223. https://doi.org/10.24832/nw.v1i1.345
Section
Articles

References

Bae, Sutopo Ukip; Djanang G. Bandan; dan Martinus. 1995. Sejarah Suku Dayak Maanyan, Banjar, dan Merina di Madagaskar. Palangkaraya: Belum terbit.

Depdikbud. 1993/94a. Naskah Pemaparan Budaya Spiritual Paguyuban Hiyang Piumung Paju 10. Palangkaraya: Proyek lnventaarisasi Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Depdikbud. 1993/1994b Naskah Pemaparan Budaya Spiritual
Paguyuban Nanyu Saniang Paju 4. Palangkaraya: Proyek lnventaarisasi Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Atmosudiro, Sumiati. 1981. "Bangunan Megal itik Salah Satu Cerminan Solidaritas Masa Perundagian", Berkala Arkeologi No.1: 36- 41.

Budiman, Kris.2004. Jejaring Tanda-tanda Strukturalisme dan Semiotik dalam Kritik Kebudayaan. Magelang:Indonesia Tera.

Dyson dan Asharini. 1980/81. Tiwah Upacara Kematian Pada Masyarakat Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah. Jakarta: Proyek Media kebudayaan.

Hadiwijono, Harun.1985. Religi Suku Murba di Indonesia. Jakarta: BPK Gunung Mulia.

Hudson, Alfred D. dan Judith M. Hudson. 1964. editor Koentjaraningrat. "Telang: Sebuah Desa Maanjan di Kalimantan Tengah", Dalam Koentjaraningrat. (ed.} Masjarakat
Desa di Indonesia Masa lni. Jakarta: Jajasan Badan Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Maunati, Yekti . 2004. ldentitas Dayak Komodifikasi dan Politik
Kebudayaan. Yogyakarta: LKIS.

Prasetyo, Bagyo, dkk. 2004. Religi Pada Masyarakat Prasejarah di Indonesia. Jakarta: Asisten Deputi Urusan Arkeologi Nasional.

Simpei, Bajik R. dan Mintikei R. Hanyi. 1996. Panaturan Tamparan Taluh Handiai (Awal Segala Kejadian). Palangkaraya: Majelis Besar Akim Ulama kaharingan Indonesia.

Sulistyanto, Bambang. 2004. Upacara Tiwah Masyarakat Dayak Ngaju di Pendahara. Banjarbaru: Balai Arkeologi Banjarmasin.

Sulistyanto, Bambang dan Nasruddin. 2006. Tiwah: Ritus Kematian Dayak Ngaju. Kebudayaan Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan Vol. 1 no. 1 :20-32.

Syarifuddin R. Dkk. 1996. Wujud, Arti dan Fungsi Puncak-puncak Kebudayaan Lama dan Asli Bagi Penduduknya Daerah Kalimantan Selatan. Banjarmasin: Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai- nilai Budaya Daerah Kalimantan Selatan.

Wales, Qua ritz. 1953. The Mountain of Good a Study in Early and Kingship. Bernard Quaritch Ltd.

Wasita . 2004. "Artefak dan Ritual Pada Masyarakat Tradisional: Pola
pembelajaran Antargenerasi secara Lisan", Naditira Widya Bulletin
Arkeologi No 13. Banjarbaru: Balai Arkeologi Banjarmasin.

Wasita dan Sunarningsih. 2004. Sistem Penguburan dan Upacara ljambe. Pada Masyarakat Barito Timur, Kalimantan Tengah . Berita
Penelitian Arkeologi No 15. Banjarbaru: Balai Arkeologi
Banjarmasin.