ANALISIS STRUKTURAL PADA MUKHALINGGA DI NANGA SEPAUK, KABUPATEN SINTANG, KALIMANTAN BARAT (STRUCTURAL ANALYSIS OF MUKHALINGGA IN SEPAUK, KABUPATEN SINTANG, WEST KALIMANTAN)

Imam Hindarto
| Abstract views: 99 | views: 24

Abstract

Kebudayaan Hindu-Buddha di Nusantara mewariskan artefak-artefak arkeologi yang tersebar di seluruh pelosok kepulauan ini. Salah satu artefak tersebut berupa mukhalingga yang ditemukan di Nanga Sepauk, Kalimantan Barat. Mukhalingga mengandung simbol religi agama Hindu. Simbol tersebut dilatarbelakangi oleh struktur budaya masyarakat yang menciptakan artefak tersebut. Selama ini penelitian arkeologi terhadap mukhalingga membahas hanya kronologi budaya tanpa meneliti aspek struktur budayanya. Penelitian kali ini berupaya mengungkap struktur budaya yang melatarbelakangi pendirian mukhalingga. Tujuan penelitian ini adalah memahami sejarah budaya masyarakat masa lalu di Nanga Sepauk. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan analisis struktural. Analisis dilakukan dengan menguraikan aspek asosiatif dan paradigmatif mukhalingga. Hasil analisis struktural menunjukkan bahwa mukhalingga merupakan wujud dari tiga aspek, yaitu kekuatan Śiwa, siklus kehidupan, dan dualisme gagasan. Pada konteks sejarah budaya di Nanga Sepauk keberadaan mukhalingga menunjukkan adanya Śiwaisme, kultus dewarāja, dan keberadaan mandala.

 

The Hindu-Buddhist culture in Nusantara bequeaths archaeological artefacts scattered throughout the archipelago. One of such artefacts is the mukhalingga found in Nanga Sepauk, West Kalimantan. A mukhalingga contains religious symbols of Hinduism which is formed by the cultural structure of a community who created the artefact. Until today, archaeological studies of mukhalingga discuss only its cultural chronology without examining the structural aspects of the culture. This research attempts to disclose the cultural structure underlying the establishment of a mukhalingga. The objective of this study is to understand the cultural history of the past in Nanga Sepauk. The research method used is qualitative with structural analysis. The analysis is carried out by breaking down the associative and paradigmative aspects of a mukhalingga. The results of structural analysis suggest that a mukhalingga is a manifestation three aspects, i.e. the power of Śiwa, life cycle, and dualism of ideas. Regarding the context of cultural history in Nanga Sepauk the existence of mukhalingga suggests the presence of Śiwaisme, dewarāja cult, and the mandalas.

Keywords

Struktur budaya, mukhalingga, Śiwaisme, kultus dewarāja, mandala (Cultural structure, mukhalingga, Śiwaisme, dewarāja cult, mandala)

References

Atmodjo, M.M Sukarto K. 1994. “Beberapa Temuan Prasasti Baru di Indonesia.” Berkala Arkeologi Tahun XIV (Edisi Khusus): 1-5.

Calo, Ambra, Bagyo Prasetyo, Peter Bellwood, James W. Lankton, Bernard Gratuze, Thomas Oliver Pryce, Andreas Reinecke, Verena Leusch, Heidrun Schenk, Rachel Wood, Rochtri A. Bawono, I Dewa Kompiang Gede, Ni L.K. Citha Yuliati, Jack Fenner, Christian Reepmeyer, Cristina Castillo dan Alison K. Carter. 2015. “Sembiran and Pacung on the Noarth Coast of Bali: a Strategic Crossroads for Early Trans-Asiatic Exchange.” Antiquity 89 (344): 378-396.

Coedes, George. 2010. Asia Tenggara Masa Hindu-Buddha. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Groslier, Bernard Philippe. 2007. Indocina

Persilangan Kebudayaan. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Hagesteijn, Renée. 1989. Circles of Kings Political Dynamics in Early Continental Southeast Asia. Leiden: Koninklijk Instituut voor Taal, Land-en Volkenkunde.

Geldern, Robert von Heine. 1982. Konsepsi tentang Negara dan Kedudukan Raja di Asia Tenggara. Terjemahan oleh Deliar Noer. Jakarta: Bhratara.

Koentjaraningrat. 1980. Sejarah Teori Antropologi 1. Jakarta: universitas Indonesia Press.

Kumar, Nitin. 2003. “The Shiva Linga Images of Cosmic Manhood in Art and Mythology.” Diunduh 1 Desember 2009 (http:// www.exoticindiaart.com/acrobat/ shivalinga.pdf)

Maswinara, I Wayan (ed.). 2001. Linga Purâna. Surabaya: Penerbit Paramita.

Munandar, Agus Aris. 2014. Mitra Satata Kajian Asia Tenggara Kuna. Jakarta: Wedatama Widya Sastra..

Munoz, Paul Michel. 2009. Kerajaan-Kerajaan Awal Kepulauan Indonesia dan Semenanjung Malaysia Perkembangan Sejarah dan Budaya Asia Tenggara (Jaman Pra Sejarah-Abad XVI). Yogyakarta. Mitra Abadi.

Nöth, Winfried. 1990. Handbook of Semiotics. Bloomington and Indianapolis: Indiana University Press O’Connor, S.J. 1961. “An Ekamukhalinga from Peninsular Siam.” Diunduh 24 November 2017 (http://www.siameseheritage.org/ jsspdf/1961/JSS_054_1e_O Connor_EkamukhalingaFromPeninsula [ciam.pdf)

O’Connor, S.J. 1967. “Note on a Mukhalinga from Western Borneo.” Artibus Asie 29 (1): 93-98

Poerbatjaraka. 1982. Riwayat Indonesia Jilid I. Yogyakarta: Ikatan Keluarga Arkeologi Purbayasa.

Putra, Heddy Shri Ahimsa. 1999. “Strukturalisme Levi Strauss untuk Arkeologi Semiotik.” Humaniora 11: 5-14

-------. 2006. Strukturalisme Levi Strauss: Mitos dan Karya Sastra. Yogyakarta: Penerbit Kepel.

Rahardjo, Supratikno. 2002. Peradaban Jawa Dinamika Pranata Politik, Agama, dan Ekonomi Jawa Kuno. Jakarta: Komunitas Bambu.

Rema, Nyoman dan Nyoman Sunarya. 2015. “Lingga Berhias Padma Astadala.” Forum Arkeologi 8 (2): 79-88.

Sanjaya, Gede Oka (ed.). 2001. Siva Purâna. Surabaya: Penerbit Paramita

Santiko, Hariani. 1989. “Waprakeswara: Tempat Bersaji Pemeluk Agama Weda.” Amerta 11:1-8

Sedyawati, Edi. 1986. “Kajian Kuantitatif atas Masalah Local Genius.” Hlm. 33-49 dalam PIA IV Buku III Konsepsi dan Metodologi. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

Sjamsuddin, Hellius. 2013. Kerajaan Sintang 1822-1942: Perlawanan dan Perubahan di Kalimantan Barat. Yogyakarta: Penerbit Ombak.

Soebadio, Haryati. 1985. Jnanasiddhanta. Jakarta: Djambatan

Soekmono. 2017. Candi Fungsi dan Pengertiannya. Yogyakarta: Penerbit Ombak

Sunliensyar, Hafiful Hadi. 2017. “Menggali Makna Motif Hias Bejana Perunggu Nusantara: Pendekatan Strukturalisme Levi Staruss.” Berkala Arkeologi 37 (1): 51-68.

Suhaimi, Nik Hasan, Nik Abd. Rahman, Bambang Budi Utomo dan Zuliskandar Ramli. 2010. “Archaeology of West Kalimantan.” Diunduh 22 Januari 2019(https:// www.researchgate.net/profile/Zuliskandar_Ramli/publication/30520 3501_ARCHAEOLOGY_ OF_WEST_ KALIMANTAN/links/57849 4b508ae3f3 55b4a4a87/ARCHAEOLOGY-OF-WESTKALIMANTAN.pdf)

Titib, I Made. 2010. Purâna Sumber Ajaran Hindu Komprehensip. Surabaya: Penerbit Pâramita Surabaya.

Tim Penelitian. 2009. “Jejak-Jejak Hindu-Buddha di Sepauk Kabupaten Sintang Kalimantan Barat.” Laporan Penelitian Arkeologi. Banjarbaru: Balai Arkeologi Banjarmasin.

Wolters, O.W. 2011. Kemaharajaan Maritim Sriwijaya dan Perniagaan Dunia Abad IIIAbad VII. Jakarta: Komunitas Bambu.

Copyright (c) 2019 Naditira Widya
Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Refbacks

  • There are currently no refbacks.