TAMAN SÎMA PADA PRÂSÂDA DI GUNUNG HYANG (JAWA ABAD IX M) (SÎMA GARDEN IN A PRÂSÂDA ON GUNUNG HYANG (JAVA IN THE NINTH CENTURY))

Mimi Savitri
| Abstract views: 94 | views: 28

Abstract

Penelitian tentang taman dari masa Hindu-Buddha pada abad ke-9 Masehi selama ini belum banyak dilakukan. Hal ini karena jarang ditemukannya tinggalan arkeologis berupa taman dari masa tersebut. Namun, prasasti Jurungan berangka tahun 798 Saka (876 Masehi) membuktikan bahwa ada taman dari abad ke-9 Masehi dengan status sîma bagi prâsâda di Gunung Hyang. Penelitian ini penting dilakukan untuk memahami karakterisktik taman di Jawa pada abad ke-9 Masehi dan hubungan taman sîma dengan prâsâda. Selain itu, tujuan penelitian ini adalah melengkapi pengetahuan mengenai lanskap taman pada wilayah Mataram Hindu abad ke-9 Masehi dan merekonstruksi budaya masyarakat Jawa pada masa itu. Penelitian ini menggunakan pendekatan sejarah, dan dilakukan dengan teknik pengumpulan data melalui studi pustaka dari buku-buku, laporan penelitian, artikel ilmiah, dan naskah kesastraan. Pembacaan prasasti Jurungan dilakukan secara langsung dan terhadap hasil alih aksara prasasti. Analisis prasasti didukung pula oleh pengamatan relief pada Candi Borobudur dan Prambanan, serta pengamatan lanskap taman Keraton Boko. Hasil penelitian menunjukkan bahwa taman sîma pada prasasti Jurungan memiliki unsur penting berupa tanaman dan air yang mendukung kelangsungan prâsâda sebagai bangunan suci di Gunung Hyang. Lebih lanjut, disebutkan pula tentang pemenuhan kebutuhan akan buah atau bunga persembahan untuk prâsâda ataupun kebutuhan ekonomi masyarakat sekitar yang mengelola prâsâda. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa taman sîma, prâsâda, dan Gunung Hyang secara konseptual merupakan lanskap sakral yang dibentuk menjadi satu kesatuan sebagai perwujudan konsep kosmologi masyarakat Hindu di Jawa pada abad ke-9 Masehi.

 

Little researches on gardens from the ninth century Hindu-Buddhist period are conducted due to the few discoveries of archaeological remains that indicate gardens. However, the Jurungan inscription dated 798 Saka (876 CE) proves the existence of a garden from the ninth century with a status of sîma for a prâsâda on Gunung Hyang. The significance of this research is to understand the characteristics of a garden in Java during the ninth century and the relationship between a sîma garden and prâsâda. Additionally, the objective of this study is to obtain a comprehensive knowledge of a garden landscape in the ninth century Hindu Mataram region and reconstruct the culture of the Javanese society then. This study uses a historical approach, and data collection is carried out by literature studies from books, research reports, scientific articles, and literary texts. Reading the Jurungan inscription was conducted both from the script and its transliteration. The inscription analysis was also supported by a study of the reliefs on the temples Borobudur and Prambanan, as well as landscape observations of the Boko palace garden. Research results suggest that the sîma garden mentioned in the Jurungan inscription has important elements of plants and water that support the continuity of a prâsâda as a sacred structure on Gunung Hyang. Further, the inscription also mentioned about fulfilling the needs for fruit or flower offerings for the prâsâda or the economic demands of the surrounding communities who maintained the prâsâda. Conclusively, the research suggests the sîma garden, prâsâda, and Gunung Hyang are conceptually sacred landscapes that are formed into a single entity as a manifestation of the cosmological concept of Hindu society in Java during the ninth century.



Keywords

Prasasti Jurungan, taman sîma, prâsâda, Gunung Hyang, Jawa abad ke-9 Masehi (Jurungan inscription, sîma garden, prâsâda, Gunung Hyang, ninth century Java)

References

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. 2016. “Taman.” Diakses 5 Februari 2019 (https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/taman)

Bhagwat, Prabhakar B. 2018. “The Gardens of India”. Diunduh 2 Februari 2018 (https:// www.icomos.org/publications/ 93garden5.pdf).

Boechari. 2012. “Candi dan Lingkungannya”, dalam Melacak Sejarah Kuno di Indonesia Lewat Prasasti. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Coedès, George, Louis-Charles Damais, Hermann Kulke, Pierre-Yves Manguin. 2014. Kedatuan Sriwijaya. Depok: Komunitas Bambu.

Darmosoetopo, Riboet. 2003. Sima dan Bangunan Keagamaan di Jawa Abad IX-X TU. Yogyakarta: Prana Pena.

Darmosoetopo, Riboet, Timbul Haryono, Djoko Dwijanto. 2012. Kajian Koleksi Darpana Perunggu dan Prasasti Jurungan. Yogyakarta: UPTD Museum Negeri Sonobudoyo

De Casparis, J.G. 1990 “An Ancient Garden in West Sumatra: Saraswati Esai-Esai Arkeologi.” Kalpataru 9: 40-49.

Degroot, Veronique. 1972. Candi, Space and Landscape. Leiden: Leiden University. Degroot, Veronique. 2013. Magical Prambanan. Yogyakarta: PT (Persero) Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan & Ratu Boko.

Dyer, Marry H. 2016. “What Is A Hindu Garden: Tips For Creating Hindu Gardens.” Diakses 7 Februari 2018 (https://www.gardeningknowhow.com/special/spaces/creatinghindu-gardens.htm).

Fambayun, Umaira. 2016. “Taman-Taman Kota (Taman Sriwedari, Taman Balekambang, dan Villapark): Elemen Penting Pembentuk Keindahan Kota Surakarta Awal Abad Ke-20.” Skripsi. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Budaya.

Guillon, Emanuel. 2003. “Architecture and Symbolic Landscapes: the Cases of Ancient Champa and Mon Kingdoms.” Hlm 271-279 dalam Southeast Asian Archaeology Fishbones and Glittering Emblems, diedit oleh Anna Karlström and Anna Källen. Stockholm: Museum of Far Eastern Antiquities/Östasiatiska Museet.

Holt, Claire. 1967. Art in Indonesia: Continuities and Change. Ithaca: Cornell Unversity Press. Kauai’s Hindu Monastery. 2019. “Sacred Temple Gardens.” Diakses 7 Februari 2019 (https:/ /www.himalayanacademy.com/monastery/ about/gardens).

Kempers, A, J. Bernet. 1959. Ancient Indonesian Art. Amsterdam: C.P.J. Peet.

Lien, Vu Hong. 2015. Royal Hue Heritage of the Nguyen Dynasty of Vietnam. Bangkok: River Books.

Lombard, Denys. 2008. Gardens in Java. Terjemahan dalam Bahasa Inggris oleh John N Miksic. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional.

Meriam-webster. 2019. “Garden.” Diakses 5 Februari 2019 (https://www.merriamwebster.com/dictionary/garden).

Miksic, John dan Pinardi, Slamet. 2015. Kraton Ratu Boko: A Javanese Site of Enigmatic Beauty. Yogyakarta: P.T. (Persero) Taman Wisata Borobudur dan Prambanan.

Nastiti, Titi Surti. 2003. Pasar di Jawa Pada Masa Mataram Kuna abad VIII-XI Masehi. Jakarta: Pustaka Jaya.

Passchier, Cor. 2007. “Colonial Architecture in Indonesia References and Developments.” Hlm. 97-112 dalam The Past in the Present Architecture in Indonesia, diedit oleh Peter J.M. Nas. Leiden: KITLV.

Pigeaud, Theodore G.Th. 1962. Java in the 14th Century: A Study in Cultural History: The Nagara-Kertagama by Rakawi Prapanca of Majapahit, 1365 A.D. The Hague: Martinus Nijhoff.

Pradana, Yogi. 2015. “Kebijakan Penguasa Dalam Pelestarian Bangunan Keagamaan Pada Masa Raja Balitung (898-910 M): Kajian Atas Prasasti-prasastinya.” Skripsi. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Budaya.

Prayudi, Ashwin 2010. “Fungsi dan Latar Belakang Penempatan Taman Kolonial di Kota Bandung Tahun 1885-1940.” Skripsi. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Budaya.

Rijal, Babu Krishna 2018. “The Birth Place of Lord Buddha.” Diunduh 5 Februari 2018 (http:// himalaya.socanth.cam.ac.uk/collections/ j o u r n a l s / a n c i e n t n e p a l / p d f / ancient_nepal_82_02.pdf

Satari, Sri Soejatmi. 2008. “Ancient gardens and Hindu-Buddhist architecture in Java.” Hlm. 122-132 dalam Interpreting Southeast Asia’s past: Monument, Image and Text, diedit oleh Elisabeth A. Bacus, Ian Glover dan Peter D. Sharrock. Singapore: NUS Press.

Savitri, Mimi. 2005. “The Spasial Organization of the Kedhaton in Kraton Surakarta, from the Reigns of Paku Buwana X to Paku Buwana XII (1893-2004).” Tesis. Canberra: the Australian National University.

-------. 2015. “Sustaining the Layout of the Javanese City Centre 1745-1942): The Embodiment of the Sunan’s Power in Surakarta.” Disertasi. London: SOAS, University of London.

Soekmono. 1974. “Candi Fungsi dan Pengertiannya.“ Disertasi. Jakarta: Universitas Indonesia.

Wessing, Robert. 1991. “An Enclosure in the Garden of Love.” Journal of Southeast Asian Studies 22 (1): 1-15.

Worsley, P, S. Supomo, M. Fletcher, T.H. Hunter. 2014. Kakawin Sumanasantaka Karya Mpu Monaguna. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Copyright (c) 2019 Naditira Widya
Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Refbacks

  • There are currently no refbacks.