PEMUKIMAN MASYARAKAT NGAJU DI HULU DAERAH ALIRAN SUNGAI KAHAYAN DARI ABAD KE-4 HINGGA KE-19 MASEHI (SETTLEMENTS OF THE NGAJU IN THE KAHAYAN BASIN OF CENTRAL KALIMANTAN, FROM THE 4 th TO 19 th CENTURIES)

Sunarningsih Sunarningsih, M.A.

Abstract

Keberadaan sungai bagi masyarakat yang tinggal di pedalaman  sama pentingnya dengan keberadaan pantai bagi masyarakat pesisir. Salah satu masyarakat yang kehidupannya berkaitan dengan sungai adalah Ngaju, yang bertempat tinggal di Sungai Barito, Sungai Kapuas, dan Sungai Kahayan. Penelitian ini akan membahas kehidupan masyarakat Ngaju yang tinggal di tepian Sungai Kahayan dan anak sungainya. Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan gambaran perubahan kehidupan mereka di bagian hulu Sungai Kahayan, dari abad ke-4 Masehi hingga abad ke-19 Masehi. Tulisan ini bersifat deskriptif dengan penalaran induktif, dan menggunakan teori revolusi urban. Data arkeologi dan etnografi mencerminkan perkembang luasan dan lokasi pemukiman yang berada pada tataran kedua revolusi urban.

 

The presence of rivers for people living in the interior is as important as the presence of beaches for coastal communities. The Ngaju live along the Barito, Kapuas, and Kahayan rivers. This study discusses the life of Ngaju people on the banks of the Kahayan River and its tributaries, with the objective to understand the development of living from the 4th to 19 th centuries AD. This investigation uses descriptive-inductive approach which based on a theory of urban revolution.This data are from archaeology and ethnography, and reflect developments in settlement size and location which correspond to the second stage of an urban revolution.

Keywords

revolusi urban, hulu, Dayak Ngaju, Sungai Kahayan, Kalimantan Tengah ( urban revolution, upperstream, Dayak Ngaju, Kahayan River, Central Kalimantan)

Full Text:

PDF

References

Baier, Martin. 2007. “The Development of the Hindu Kaharingan Religion: a New Dayak Religion in Central Kalimantan.” Anthropos Bd. 102. H.2: 566-570.

Childe, Gordon V. 1950. “The Urban Revolution.” The Town Planning Review21(1): 3-17

Dewi, Ni Ketut Agusinta. 2003. “Wantah Geometri, Simetri, dan Religiusitas pada Rumah Tinggal tradisional di Indonesia”. Jurnal Permukiman Natah1(1): 29-43.

Guerreiro, Antonio J., 2003. “The Bornean Longhouse in Historical Perspective, 1850-1990 Social Processes and Adaptation to Change.” Hlm. 285-332 dalam Indonesian

Houses Tradition and Transformation in Vernacular Architecture, editor Reimar Schefold, Gaudenz Domenig dan Peter Nas. Leiden: KITLV.

Hudson, Alfred B. 1967. “The Padju Epat Ma’anjan Dayak in Historical Perspetive”. Indonesia 4: 8-42.

Koentjaraningrat (editor). 1997. Metode-metode Penelitian Masyarakat, Edisi Ketiga. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama

Kusmartono, Vida Pervaya R. 2009. Tiwah: The Art of Death in Southern Kalimantan. Naditira Widya1(2): 206-213.

Petebang, Edi. 2005. Dayak Sakti Pengayauan, Tariu, Mangkuk Merah. Pontianak: Institut Dayakologi.

Sangalang, Indrabakti, Endang Titi Sunarti Darjosanjoto, dan Muhammad Faqih. 2011. “Understanding Space Based on The Symbol of Batang Garing on Dayak Ngaju House.” Hlm. 118-126 dalam Local Wisdom in Global Era. Enhancing The Locality in Architecture Housing and Urban Environment. Yogyakarta: Duta Wacana University Press.

Schärer, Hans. 1963. Ngaju Religion The Conception of God Among a South Borneo People. Koninklijk Instituut voor Taal-, Land, en Volkenkunde. The Hague: Martinus Nijhoff.

Schawner, C.A.L.M. 1854. Beschrijving van Het Stroomgebied van Den Barito Reizen Langs Eenige Voorname Rivieren van Het Zuid Oostelijk Gedeelte van Dat Eiland, De Jaren 1843-1847. Vol. II. Amsterdam: P.N. Van Kampen

Sellato, Bernard. 1989. Naga dan Burung Enggang, Kalimantan, Sarawak, Sabah, Brunei. Malaysia: Elf Aquatine

Stuiver, M dan Reimer, P.J. 2017. “Calib Radiocarbon Calibration Program.” Radiocarbon 35: 215-230

Sunarningsih. 2013. “Penelitian Arkeologi DAS Kahayan, Kalimantan Tengah”. Laporan Penelitian Arkeologi. Banjarbaru: Balai Arkeologi Banjarmasin.

Sunarningsih. 2015a. Dinamika Sandung di Hulu Sungai Kahayan. Naditira Widya9 (1): 39-56.

Sunarningsih. 2015b. Keramat Batu (patahu) di Masyarakat Ngaju, Kalimantan Tengah. Naditira Widya9 (2): 121-134.

Sunarningsih. 2017. “Kuta Hantapang, Benteng Masyarakat Ngaju di Kalimantan Tengah”. Kindai Etam3 (1): 54-81.

Sunarningsih, Bambang Sugiyanto, Ulce Oktrivia, Yuka Nurtanti Cahyaningtyas, Gauri Vidya Daneswara, Thoni Riyanto, Abdurrasyid, Rahmat Taufik, dan Rini Widyawati. 2017. Penelitian Pemukiman Kuno Kuta Mapot di Kabupaten Gunungmas, Kalimantan Tengah. Laporan Penelitian Arkeologi. Banjarbaru: Balai Arkeologi Kalimantan Selatan.

Trigger, Bruce G. 1967. “Settlement Arhaeology, Its Goals and Promise”. American Antiquity 32(2): 149-160

Copyright (c) 2018 Naditira Widya
Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Refbacks

  • There are currently no refbacks.