Penempatan Bangunan Candi Tingkip, Lesung Batu dan Bingin Jungut pada Bentang Lahan Fluvial di Musi Rawas, Propinsi Sumatera Selatan

Main Article Content

Sondang Martini Siregar

Abstract

Daerah Musi Rawas memiliki dataran aluvial yang membentang di daerah hulu Sungai Musi sampai dengan daerah hulu Sungai Rawas. Pada wilayah tersebut manusia berusaha berinteraksi dengan alam tidak hanya untuk bertahan hidup tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan ritualnya. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya bangunan candi di Tingkip, Lesung Batu dan Bingin Jungut pada abad ke-9 Masehi. Permasalahan dalam penelitian ini yaitu bagaimana bentuk adaptasi masyarakat pendukung bangunan candi dengan lingkungan fisik di situs Tingkip, Lesung Batu dan Bingin Jungut. Hal ini disebabkan bangunan candi didirikan harus mempertimbangkan lingkungan fisiknya, yaitu jenis tanah, keletakan candi dengan sumber air, sumber bahan bangunan candi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran bentuk adaptasi manusia pendukung bangunan candi dengan lingkungan fisik di situs Tingkip, Lesung Batu dan Bingin Jungut. Metode yang dipakai adalah metode kualitatif dangan analisis ruang sebaran bangunan candi dengan lingkungan fisiknya dan analisis laboratorium, yaitu uji sample tanah dari masing-masing profil tanah dari situs Tingkip, Lesung Batu dan Bingin Jungut. Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai bahan masukan untuk penyusunan strategi dan kebijakan yang berhubungan dengan pemanfaatan lahan pada bentang lahan fluvial. Keberadaan bangunan candi menunjukkan adanya sisa peradaban India di situs Tingkip, Lesung Batu dan Bingin Jungut dan  masyarakat pendukung candi mempertimbangkan lingkungan fisik dalam mendirikan bangunan candi pada ketiga situs tersebut.

Article Details

How to Cite
Siregar, S. M. (2017). Penempatan Bangunan Candi Tingkip, Lesung Batu dan Bingin Jungut pada Bentang Lahan Fluvial di Musi Rawas, Propinsi Sumatera Selatan. Naditira Widya, 11(1), 31-46. https://doi.org/10.24832/nw.v11i1.192
Section
Naditira Widya Vol. 11 No. 1 April 2017

References

Acharya, P.K. 1933. Architecture of Manasara. Oxford. London: University Press
Arsyad, S. 1989. Konservasi Tanah dan Air. Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Boehari, 1980. Candi dan Lingkungannya. Pertemuan Ilmiah Arkeologi, II: 328-329.
Budisantoso, T.M. 2002. Candi Tingkip di Kabupaten Musi Rawas, Propinsi Sumatera Selatan. Siddhayatra,7 (1): 7-15.
Budisantoso, T.M. 2004. Indikasi Perdagangan di Daerah Aliran Sungai Musi Masa Klasik. Jurnal Siddhayatra, 9 (1): 12-17.
Chalton R. 2008. Fundamentals of Fluvial Geomorphology. Routlege, London
Eriawati Y. 1999. Adaptasi Manusia Penghuni Kompleks Gua Marros terhadap Lingkungan pada Masa Prasejarah di Maros. Pertemuan Ilmiah Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia, VII.
Gafoer S. 1986. Peta Geologi Lembar Palembang, Sumatera. Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Bandung.
Gafoer S. 2002 Peta Geologi Lembar Sarolangun, Sumatera. Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Bandung
Geldern, V. H. 1942. Conceptions of State and Kingship in South East Asia. EFEO, 15-10.
Ginting, 2004. Geografi. Jakarta: Erlangga, 69-70.
Hanafiah, K.A. 2005. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Jakarta: Rajagrafindo Persada.
Hardjowigeno, S. 1992. Ilmu Tanah. Jakarta: Mediyatama Sarana Perkasa.
Hardjowigeno, S. 2003. Klasifikasi Tanah dan Pedogenesis. Jakarta: Arkamedi Presind.
Hilmanto, R. 2010. Etnoekologi. Bandang Lampung: Universitas Lampung
Intan, M.F.S. 2009. Lingkungan Geologi Situs Candi Sewu, Kabupaten Klaten, Peoponsi Jawa Tengah. Kalpataru, 19 (1): 19-26.
Istari, T.M.R. 2006. Candi di Lereng Gunung Bromo. Kalpataru, 18 (1): 77-83.
Kartawinata. K. 1976. Penelaah dasar-dasar penyusunan pedoman untuk menentukan jenis, jumlah, luas, lokasi, serta urutan prioritas penyelenggaraan wilayah suaka alam di darat. Kumpulan kertas kerja lokakarya Perlindungan dan Pelestarian Alam. Panitia Program Man And Biosphere Indonesia: Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.
Kusumohartono, B. M. H. 1992. Potensi Lingkungan Regional dan Pertumbuhan Peradaban Kuna di Palembang. Himpunan Hasil Penelitian Arkeologi di Palembang, I: 28 - 43.
Lopulisa, 2004. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Jakarta: PT Rajagara Findo Persada.
Manguin, P.Y. 2014. Sumatera Tengah pada Jaman Protosejarah dan Sriwijaya. dalam Kedatuan Sriwijaya. Jakarta: Pusat Arkeologi Nasional: 370.
Marbun, M.A. 1979. Kamus Geografi. Ghalia Indonesia
Mundardjito, 1985. Metode Penelitian Permukiman Arkeologi. Rapat Evaluasi Metode Penelitian Arkeologi, I: 4.
Mundajito, 2002. Pertimbangan Ekologi dalam Penempatan Situs Masa Hindu-Buddha di Daerah Yogyakarta. Disertasi, 1-49; 273-287.
Nasrudin, 1999. Hubungan Manusia dan Lingkungan Lewat Pola Pemanfaatan Gua-Gua Hunian di Pangkep Sulawesi Selatan. Pertemuan Ilmiah Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia, VII.
Nico, T.A. 2014. Analisis Perubahan Ekologi : Studi Kasus Pengaruh Perubahan Bentang Lahan dan Mekanik. Tesis.
Rangkuti, N. 2015. Sebaran Situs Pra Sriwijaya di Rawas Pasang Surut: Kajian Arkeologi Ruang di Kawasan Karang Agung Tengah, Sumatera Selatan. Berkala Arkeologi, 34 (1): 51.
Raharjo, P.D. 2010. Penggunaan Data Penginderaan Jauh dalam Analisis Bentukan Lahan Asal Proses Fluvial di Wilayah Karang Sambung. Jurnal Geografi, 7 (2): 1-2.
Prawirohatono, 1991. Batuan Pembentuk Tanah.Jakarta: C.V. Rajawali.
Prasetya, 2006. Karakteristik, Potensi dan Teknologi Pengelolaan Tanah Ultisol untuk Pengembangan Pertanian Lahan Kering di Indonesia. Balai Besar Penelitian Sumber Daya Lahan Pertanian
Prijono S. 2001. Situs Gunung Lumpang, Kabupaten Cirebon sebagai Pendukung Budaya Megalitik. Manusia dan Lingkungan, I. Balar Denpasar: 13-25.
Prijono S. 2008. Lingkungan dan Topografi Lahan dan Kaitannya dengan Penempatan Situs Masa Tradisi Megalitik dan Islam di Kawasan Cibeber. Balai Arkeologi Bandung.
Rahmat, S. 2006. Aktivitas Fosfatase dan Pelarutan Kalsium Fosfat oleh Beberapa Bakteri Pelarut Fosfat.Biodiversitas, 8 (1): 23-26.
Rayes, M. L. 2007. Metode Inventarisasi Sumber Daya Lahan. Yogyakarta: CV. Andi.
Restiadi, A. Gambaran Pemanfaatan Lahan basah (Wetland) pada Masa Jawa Kuna. Berkala Arkeologi Sangkhakala, XI (22): 14-21.
Santiko, H. 1996. Seni Bangunan Sakral Masa Hindu-Buddha di Indonesia (Abad VIII-XV Masehi), Analisis Arsitektur dan Makna Simbolik. Jurnal Arkeologi Indonesia, 2: 136-142.
Satari, S. 2002. Sebuah Situs Hindu di Sumatera Selatan; Temuan Kelompok Candi dan Arca di Bumiayu. Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dan Ecole Francaised’Extreme-Orient. Jakarta: 113-128.
Simanjuntak, 2011. Kehidupan Manusia Modern Awal di Indonesia: Sebuah Sintesa Awal. Amerta, 29 (2): 1-2.
Siregar, 2004. Fondasi Bangunan Candi Tuo Sumay. Siddhayatra, 9 (2): 64-67.
Siregar, 2005. Keramik Asing dari Daerah Aliran Sungai Lematang. Siddhayatra, 10 (2): 58-62.
Soedewo, E. Sumberdaya Lahan di Situs-Situs Masa Hindu-Buddha di Daerah Aliran Sungai Batang Gadis dan Batang Angkola. Berkala Arkeologi Sangkhakala, XI (22): 49-51.
Soeprobowati, T.R. 2011. Ekologi Bentang Lahan. BIOMA, 13 (2): 46.
Soeroso, M.P. 1995. Pola Persebaran Situs Bangunan Masa Hindu-Buddha di Pesisir Utara Wilayah Batujaya dan Cibuaya. Jawa Barat: Tinjauan Ekologi. Tesis.
Soil Survey Staff, 2014. Keys to Soil Taxonomy. Twelfth Edition, 2014. United States Departement of Agrilculture-Natural Resources Conservation Service. Washington DC
Steward, J.H. 1976. Theory of Culture Chane: The Methodology of Multilinear Evolution. Chicago: University of Illinois Press.
Suantika, I.W. 2012. Pengelolaan Sumber Daya Arkeologi. Forum Arkeologi, 25 (3): 185-204.
Sumerata, I.W. 2013. Petirthaan Kuno di Banjar Bunyuh, Desa Perean. Forum Arkeologi, 26 (3): 207-2016
Sungkowo, A. 1991. Geomorfologi. Universitas Pembangunan Nasional. Yogyakarta.
Susanto, N.N. 2007. Nilai Penting Sumber Daya Arkeologi bagi Daerah. 1 (2): 244-254.
Susetyo, S. 2006. Permukiman di Lingkungan Biaro: Studi terhadap Biaro Mangaledang, Padang Lawas. Amerta, 24 (1): 35-40.
UU No. 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Jakarta: Direktorat Cagar Budaya