ARKEOLOGI KEPULAUAN TANIMBAR HASIL PENELITIAN 2011 – 2014 DAN ARAH PENGEMBANGANNYA

Main Article Content

Marlon Ririmasse

Abstract

Kepulauan Tanimbar merupakan salah satu gugus pulau utama yang ada di Kepulauan Maluku. Wilayah ini cukup
dikenal secara budaya, sebagaimana tercermin dalam karya-karya akademis. Demikian halnya ragam pusaka budaya
Tanimbar yang tersebar di berbagai museum dunia. Fakta budaya tersebut menjadi cermin bagi potensi pengetahuan
arkeologi dan sejarah budaya di kepulauan ini. Penelitian ini merupakan rangkuman hasil penelitian mengenai potensi
arkeologi di Kepulauan Tanimbar selama tahun 2011-2014 yang dilakukan oleh Balai Arkeologi Maluku. Metode penelitian
yang digunakan meliputi survei penjajakan, ekskavasi arkeologi, wawancara etnografi, dan studi pustaka. Hasil penelitian
selama kurun waktu ini menunjukkan bahwa Kepulauan Tanimbar adalah kawasan yang kaya dengan tinggalan arkeologis
dan potensial untuk ditindaklanjuti dengan studi yang lebih mendalam

Article Details

How to Cite
Ririmasse, M. (1). ARKEOLOGI KEPULAUAN TANIMBAR HASIL PENELITIAN 2011 – 2014 DAN ARAH PENGEMBANGANNYA. Naditira Widya, 10(1), 41-52. https://doi.org/10.24832/nw.v10i1.176
Section
Articles

References

Aryanto, Gesit. 2009. “193 Titik Dasar, 92 Pulau
Terluar”. Kompas , 7 November, hlm. 7
Ballard, C. 1988. “Dudumahan: A Rock Art Site on
Kai Kecil, Southeast Mollucas”. Bulletin
of the Indo-Pacific Prehistory
Association 8: 139-161.
Birdsell, J.B. 1977. “The Recalibration of a
Paradigm for the First Peopling of
Greater Australia”. Hlm 113-167 dalam
Sunda and Sahul, editor J .Allen, J
Golson, and R. Jones. Toronto:
Academic Press.
De Jonge, N and T. Van Dijk. 1995. Forgotten
Islands of Indonesia: The Art and Culture
of the Southeast Mollucas. Singapore:
Periplus.
Lape, P.V. 2000a. “Contact and Conflict in the
Banda Islands, Eastern Indonesia, 11th
to 17th Centuries”. Tesis. Rhode Island:
Brown University.
________. 2000b. “Political Dynamics and
Religious Change in the Late Precolonial Banda Islands, Eastern
Indonesia”. World Archaeology 32(1):
138–55.
________. 2006. “Chronology of Fortified Sites
in East Timor”. Journal of Island and
Coastal Archaeology 1: 285-297
Le Bar, F.M. 1976. Insular Southeast Asia:
Ethnographic Studies. Connecticut:
New Haven.
McKinnon, S. 1988. “Tanimbar Boats”. Hlm. 152-169 dalam Islands and Ancestors:
Indigenous Styles of Southeast Asia,
editor J.P Barbier and D. Newton. New
York: The Metropolitan Museum of Art.
O’Connor, S., M. Spriggs. dan P. Veth. 2005. “The
Aru Island in Perspective”. Hlm. 1-24
dalam The Archaeology of the Aru
Island, editor Sue O’Connor dkk.
Canberra: Pandanus Books.
Retraubun, Alex. 2006. “Mengapa Terluar bukan
Terdepan”. Kompas, 20 September,
hlm. 6
Ririmasse, M. 2005. “Jejak dan Prospek
Penelitian Arkeologi di Maluku”. Kapata
Arkeologi 1 (1): 35-55.
________. 2006. “Aspek-Aspek Kronologi
Arkeologi Kolonial di Pulau Kisar”.
Berita Penelitian Arkeologi Balai
Arkeologi Ambon 2 (1): 56-75.
________. 2007a. “Penelitian Arkeologi di Desa
Lingat Pulau Selaru Kabupaten Maluku
Tenggara Barat”. Berita Penelitian
Arkeologi Balai Arkeologi Ambon 3 (4):
84-110.
________. 2007b. “Fragmen Moko dari Selaru:
Temuan Baru Artefak Logam di Maluku”.
Berita Penelitian Arkeologi Balai Arkeologi
Ambon3 (5): 53-71.
________. 2010. “Arkeologi Pulau-Pulau Terdepan
di Maluku: Sebuah Tinjauan Awal”.
Kapata Arkeologi6 (12):71-89.
________. 2012. “Laut untuk Semua: Materialisasi
Budaya Bahari di Kepulauan Maluku
Tenggara”. Amerta 30 (1): 60-74.
Spriggs, M. 1998. “Research Questions in Maluku
Archaeology”. Cakalele9: 49-62.
Spriggs, M. dan D. Miller. 1988. “A Previously
Unreported Bronze Kettledrum from the
Kai Islands, Eastern Indonesia”. IndoPacific Prehistory Association Bulletin8:
79-88.
Tanudirdjo, D. 2005. “The dispersal of
Austronesian-Speaking People and the
Ethnogenesis of Indonesian people”.
Hlm.83-98 dalam Austronesian Diaspora
and the Ethnogeneses of People in
Indonesian Achipelago. Jakarta: LIPI
Press.
Zuhdi, Susanto. 2006. “Mengapa Bukan Pulau
Terdepan”. Kompas 8 September, hlm. 7