TEKNOLOGI, BENTUK, FUNGSI, DAN MOTIF HIAS TEMBIKAR DI ISTANA ALMUKARRAMMAH, SINTANG

Main Article Content

ulce oktrivia

Abstract

Tembikar dapat digunakan untuk mengetahui tingkat kepandaian teknologis dan aktivitas masyarakat pada masa lalu. Guna mengetahui hal tersebut, maka perlu diketahui tingkat teknologi tembikar, bentuk, dan motif hias tembikar, dan kaitan antara fungsi tembikar dan fungsi situs Istana Almukarrammah pada masa lalu. Permasalahan tersebut dijawab dengan menggunakan teknik pengamatan berdasarkan variabel jejak buat, warna, motif hias dan teknik hias. Selain itu juga dilakukan penggambaran dengan teknik mirror untuk bagian tepian tembikar. Tembikar Istana Almukarramah yang terdiri dari periuk, mangkuk, kendi, dan tembikar berbentuk persegi, dibentuk dengan tangan, alat, dan gabungan kedua teknik tersebut. Tidak semua bahan tanah liat dipilih dengan baik. Rata rata tembikar dibakar pada suhu yang rendah sampai sedang, meskipun terdapat beberapa yang dibakar pada suhu tinggi. Motif hias dan teknik yang digunakan sangat berfariasi. tembikar Istana Almukarramah keperluan sehari-hari dan media upacara. Hal ini dapat dilihat dari fungsi lokasi ini sebalum tahun 1932 adalah sebagai lokasi pemukiman. Sedangkan fungsi upacara didasarkan banyaknya temuan tembikar disekitar Batu Kundur. Dengan demikian dapat diketahui bahwa masyarakat yang membuat tembikar Istana Almukarramah rata-rata memiliki kepandaian dan pengetahuan teknologis antara rendah sampai sedang. Kegiatan yang pernah terjadi dilokasi ini adalah aktifitas kehidupan sehari hari, dan atifitas upacara yang terkait dengan Batu Kundur 

Article Details

How to Cite
oktrivia, ulce. (2016). TEKNOLOGI, BENTUK, FUNGSI, DAN MOTIF HIAS TEMBIKAR DI ISTANA ALMUKARRAMMAH, SINTANG. Naditira Widya, 10(2), 97-112. https://doi.org/10.24832/nw.v10i2.138
Section
Naditira Widya Vol. 10 No.2 Tahun 2016
Author Biography

ulce oktrivia, Balai Arkeologi Banjarmasin

Kementerian pendidikan dan kebudayaan

References

Anonim. 2008. Metode Penelitian Arkeologi. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.
Atmojo, Bambang Sakti. 2010. “Kepurbakalaan Islam di Sintang dan Ketapang, Kalimantan Barat.” Berita Penelitian Arkeologi 4(1): 44-68.
Noerwidi, Sofwan. 2007. “Beberapa Seni Kriya Elemen Penanda Kehadiran Austronesia di Kepulauan Indonesia.” Hlm. 187-205 dalam Kriyamika: Melacak Akar dan Perkembangan Kriya. Yogyakarta. Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada.
Orton, Cilve. Paul Tyers. Dan Alan Vice. 1993. Poetry in Archaeology. New York: Cambridge University Press.
Rice, Prudence M. 1987. Pottery Analysis A Sourcebook. London: the University of Chicago Press.
Solheim, Wilhelm G. II. 2003. “South East Asia Earthenware Pottery and Its Spread.” Hlm. 1-21 Dalam Earthenware in Southeast Asia, Editor Jhon N. Miksic. Singapura: Singapore University Press.
Tomi. 2014. Pasak Negeri Kapuas 1616-1822. Jakarta: Feliz Books.
Topographisch Bureau Batavia. 1988. “Kaart van den vierkanten paal (I en II) gouvernements grondgebied te Sintang”. Diunduh 10 Agustus 2016 (http://media-kitlv.nl/all-media/indeling/detail/form/advanced/start/194?q_searchfield=sintang).
Wahyudi, Wanny Raharjo. 2012. Tembikar Upacara Di Candi-Candi Jawa Tengah Abad Ke-8-10. Jakarta: Wedatama Widya Sastra.
Yondri, Lutfi. 2000. “Penjajakan Hunian Belanjut di Tepian DAS Kapuas”. Kronik Arkeologi (.2)1: 10-31.