PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN SUMBERDAYA ARKEOLOGI: SEBUAH RETROSPEKSI

Main Article Content

Hartatik Hartatik

Abstract

Sumberdaya arkeologi sering diabaikan oleh masyarakat karena ketidakpahaman masyarakat tentang arti penting sumberdaya
tersebut. Lembaga kebudayaan milik pemerintah, terutama Balai Arkeologi dan Balai Pelestarian Cagar Budaya merupakan motor
penggerak pengelolaan sumberdaya arkeologi yang mempunyai tanggung jawab untuk menginformasikan keberadaan dan nilai
penting sumberdaya arkeologi kepada masyarakat. Berbagai sosialisasi hasil penelitian yang merupakan bagian dari pengembangan
kegiatan penelitian telah dilakukan, tetapi hasil kerja lembaga kebudayaan milik pemerintah tersebut belum dapat dipahami dan
dimanfaatkan oleh masyarakat. Akibatnya, pengelolaan sumberdaya arkeologi seolah menjadi beban tunggal pemerintah. Permasalahan
dalam tulisan ini adalah apa yang seharusnya dilakukan oleh lembaga kebudayaan untuk menarik masyarakat dalam pengelolaan
sumberdaya arkeologi? Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui apa yang seharusnya dilakukan oleh lembaga kebudayaan supaya
masyarakat sebagai pemilik budaya tertarik dan terlibat dalam pengelolaan sumberdaya arkeologi. Metode pengumpulan data dilakukan
melalui studi pustaka dan pengamatan selama penulis bekerja di Balai Arkeologi Banjarmasin dari tahun 1999 sampai dengan 2014.
Metode analisis data dilakukan secara deskriptif dengan penalaran induktif. Hasil dari tulisan ini adalah nilai penting sumberdaya
arkeologi harus dipertahankan dengan melakukan sinergi antara lembaga pengelola kebudayaan dan masyarakat secara efektif dan
efisien. Selain itu, perlunya instansi pengelola kebudayaan dalam satu garis komando, sehingga akan memudahan koordinasi dalam
perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan kinerja.

Article Details

How to Cite
Hartatik, H. (1). PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN SUMBERDAYA ARKEOLOGI: SEBUAH RETROSPEKSI. Naditira Widya, 8(2), 95-104. https://doi.org/10.24832/nw.v8i2.109
Section
Articles

References

Binford, L. R. 1972: An archaeology prespective,
New York: Seminar Press.
Carman, J. 2001: Archaeology and heritage: An
introduction. London-New York: Continuum.
Hartatik. 2012. Pemanfaatan situs arkeologi di
Kalimantan Selatan: fakta dan harapan.
Dalam Arkeologi untuk publik. Supratikno
Rahardjo (ed). Jakarta: Ikatan Ahli Arkeologi
Indonesia.
_______. 2014. Strategi pengelolaan kawasan
rumah adat Banjar di Teluk Selong Ulu,
Kabupaten Banjar: pendekatan pelestarian
sumberdaya arkeologi dan kearifan lokal.
Tesis. Banjarbaru: Program Studi
Pengelolaan Sumber Daya Alam dan
Lingkungan, Pasca Sarjana Universitas
Lambung Mangkurat. .
Hodder, Ian. 1999. The archaeological process, an
introduction. Blackwell Publisher.
Kasnowihardjo, Gunadi. 2004 Manajemen
arkeologi. Banjarbaru: IAAI Komda
Kalimantan.
Ihsan, Nur. 2011. Implikasi pascamodernisme
dalam arkeologi. Departemen Arkeologi:
Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya
Univesitas Indonesia.www.academia.edu/
implikasi_Pascamodernisme_dalam_Arkeologi,
diakses 23 Agustus 2014.
Mitchell, Bruce, B. Setiawan, dan Dwita Hadi
Rahmi. 2003. Pengelolaan sumberdaya dan
lingkungan. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.
Mundardjito. 2008. Konsep cultural resource
management dan kegiatan pelestarian arkeologi di indonesia. Dalam Kumpulan
makalah pertemuan ilmiah arkeologi XI,
Solo 13-16 Juni, 7-22. Jakarta: Ikatan Ahli
Arkeologi Indonesia
Renfrew, Colin dan Paul Bahn. 1991. Archaeology
theories, methods, and practice.
London:Thames & Hudson.
Schiffer, Michael B. (ed). 1984. Advances in
archaeological method and theory Vol. 7
Florida: Academic Press Inc.
Simatupang, Lono Lastoro. 2006. Metode, teori,
teknik penelitian-penelitian kebudayaan.
Yogyakarta: Pustaka Widyatama.
Stoner, James A.F., Edward Freeman R., dan
Daniel Gilbert R. Jr. 1996: Manajemen.
Jakata: PT Prehalindo.
Tanudirdjo, Daud Aris. 2004. Pengelolaan
sumberdaya arkeologi: sebuah pengantar.
Dalam makalah Pelatihan sumberdaya
arkeologi di Trowulan, Mojokerto, 27
Agustus - 1 September 2004.
Tim Peneliti. 2012. Verifikasi cagar budaya di
Kecamatan Martapura Kota, Martapura
Timur, Martapur Barat, dan Karang Intan
Kabupaten Banjar. Banjarbaru: Balai
Arkeologi Banjarmasin dan Disbudpar
Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Banjar.
Belum terbit.
Wasita. 2011. Persepsi peziarah muslim dalam
pemanfaatan situs Candi Agung di Amuntai,
Kalimantan Selatan. Tesis. Yogyakarta:
Program Pasca Sarjana Universitas Gadjah
Mada.