PERBANDINGAN BAHASA DAN DATA ARKEOLOGI PADA SUKU TIDUNG DAN DAYAK DI WILAYAH NUNUKAN: DATA BANTU UNTUK REKONSTRUKSI SEJARAH DAN PERUBAHAN BUDAYA

Hartatik Hartatik
| Abstract views: 142 | views: 177

Abstract

Suku Tidung merupakan salah satu suku asli Nunukan yang beragama Islam dan mengakui bahwa dirinya merupakan orang
Dayak. Hal tersebut berbeda dengan suku lainnya yang telah memeluk Islam, biasanya tidak menganggap dirinya sebagai orang
Dayak. Masalah dalam artikel ini adalah adakah hubungan antara suku Tidung dengan suku Dayak di wilayah Nunukan (Tahol,
Tenggalan, dan Agabag)? Bagaimana perbandingan bahasa, data arkeologi, dan tradisi dapat menjadi data bantu untuk merekonstruksi
sejarah dan perubahan budaya suku Tidung kaitannya dengan suku Dayak lainnya di Nunukan? Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui ada tidaknya hubungan antara suku Tidung dengan Dayak Tahol, Agabag, dan Tenggalan melalui perbandingan bahasa,
data arkeologi dan tradisi, serta peluangnya sebagai data bantu untuk merekonstruksi sejarah dan perubahan budayanya. Dari
analisis perbandingan bahasa, tradisi, dan data arkeologi diketahui bahwa suku Tidung mempunyai persamaan yang signifikan
dengan suku Dayak Tahol, Tenggalan, dan Agabag. Dari hasil perbandingan itu disimpulkan bahwa suku Tidung mempunyai hubungan
dengan ketiga suku Dayak tersebut karena berasal dari rumpun yang sama. Suku Tidung mempunyai pergerakan yang lebih dinamis
dari pada suku Dayak lainnya sehingga mereka menyebar jauh dari pedalaman dan melakukan kontak dengan pendatang muslim,
sehingga kini suku Tidung pun identik dengan muslim.

Keywords

bahasa, perbandingan, Tidung, Dayak, muslim, tradisi, data arkeologi
Copyright (c) 2016 Naditira Widya
Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Refbacks

  • There are currently no refbacks.