Journal History

Pada pertengahan tahun 1995, Kepala Balai Arkeologi Banjarmasin pada saat itu, Dr. Harry Widianto, dan salah satu pakar epigrafi Indonesia dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, drs. Machi Suhadi, melontarkan gagasan tentang wadah yang dapat mengakomodasikan warta hasil penelitian arkeologi bagi pengembangan disiplin arkeologi dan penyampaian informasi kepada publik. Wadah ini harus menunjukkan identitas bercirikan penemuan-penemuan arkeologis yang banyak ditemukan di Kalimantan, suatu kawasan yang terbelah-belah oleh seribu sungai; Seribu sungai ini, yang bercabang-cabang dan bersumber di Pegunungan Schwaner-Müller dan Meratus, kemudian bermuara di Selat Karimata, Laut Jawa, dan Selat Makassar, sejak masa dahulu telah menjadi urat nadi kehidupan di Kalimantan.

Oleh karena keberadaan sungai-sungai ini, manusia kemudian menyadari lingkungan sekelilingnya, berpikir, dan bertindak untuk beradaptasi dengan alam dan menciptakan benda-benda yang dapat mendukung kelangsungan hidupnya. Filsafat tersebut melandasi kelahiran Naditira Widya yang secara harafiah berarti ‘pengetahuan di tepi sungai’. Secara etimologis, nama Naditira Widya berasal dari Bahasa Sanskreta yang bermakna bahwa setiap jengkal tanah di kawasan daerah aliran seribu sungai di Kalimantan mengandung sumber pengetahuan yang tak ternilai. Sumber pengetahuan ini perlu digali, dipelajari, dimasyarakatkan, dan dilestarikan.

Dalam perjalanannya, Naditira Widya selalu terbit konsisten setiap tahun dengan informasi yang menarik. Berbekal kondisi yang demikian, pada tahun 2006 Naditira Widya diajukan akreditasinya ke Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Hasilnya, Naditira Widya dinyatakan sebagai jurnal yang terakreditasi berdasarkan Surat Keputusan Kepala LIPI Nomor 44/AKRED-LIPI/P2MBI/9/2006, dengan nilai C yang berlaku tiga tahun, yaitu sejak September 2006 hingga November 2009. Pada tahun 2006, Naditira Widya adalah satu-satunya jurnal terakreditasi di lingkungan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dan kesepuluh Balai Arkeologi-nya, dan tetap mendukung pewartaan hasil penelitian arkeologi bagi publik.

Status terakreditasi Naditira Widya diperpanjang pada tahun 2009 oleh Surat Keputusan Kepala LIPI nomor 231/AU1/P2MBI/08/2009, dan dinilai C. Namun, masa berlaku akreditasi kedua ini hanya untuk satu tahun, yaitu dari tanggal 28 Agustus 2009 hingga 28 Agustus 2010, dan harus diakreditasi ulang setelahnya. Setelah akreditasi dicabut pada tahun 2010, dewan redaksi Naditira Widya bekerja keras untuk bangkit kembali. Anggota dewan baru ditugaskan untuk memperbaiki kualitas publikasi. Meskipun pencabutan status, Naditira Widya tetap diterbitkan dua kali setahun, yaitu setiap bulan April dan Oktober.

Pada awal tahun 2016, dibentuklah tim untuk mengajukan kembali akreditasi Naditira Widya, dan berhasil terakreditasi terhitung mulai April 2016 berdasarkan Surat Keputusan Kepala LIPI No. 715/Akred/P2MI/LIPI/ 04/2016. Sebelum tahun 2016, Naditira Widya diterbitkan menggunakan sistem cetak, namun untuk mempertahankan statusnya, sistem penerbitan diubah menjadi sistem dalam-jaringan akses terbuka atau open journal system (OJS).

Naditira Widya volume 10 nomor 2 untuk edisi Oktober 2016 akan dipublikasikan secara online. Sayangnya, saat akan diluncurkan, situs Naditira Widya diretas oleh oknum, maka penerbitan edisi Oktober 2016 ditangguhkan. Setelah pembersihan situs web, Naditira Widya akhirnya diterbitkan secara online pada bulan November 2016. Namun, dampak retasan pada sistem masih ada dan telah mempengaruhi sejumlah kegagalan fungsi OJS, terutama edisi April dan Oktober 2017. Namun demikian, pada akhir tahun 2017, jaringan OJS ditingkatkan dan kedua edisi berhasil dipublikasikan.

In mid-1995, the incumbent Director of the Banjarmasin Institute of Archaeology, Dr. Harry Widianto, and one of Indonesia's epigraphists from the National Research Centre for Archaeology, drs. Machi Suhadi, launched an idea of a journal which could accommodate archaeological research information for the development of archaeology and dissemination to the public. This journal must show an identity characterized by archaeological discoveries found in Kalimantan, a region sliced by a thousand rivers; these thousands of rivers, which branches and rises on the flanks of the Schwaner-Müller and Meratus Mountains and empties in the Karimata Strait, the Java Sea, and the Makassar Strait, have been the arteries of life in Kalimantan.

Based on the existence of these rivers, humans then become aware of their surroundings, think, and act to adapt to nature by creating objects to survive. Such ideology underlies the birth of Naditira Widya which literally means ‘knowledge by the river'. Etymologically, the name Naditira Widya derives from Sanskrit which implies that every inch of land in the region of a thousand rivers in Kalimantan contains an invaluable source of knowledge. This source of knowledge needs to be explored, studied, socialised, and preserved.

During its development, the Naditira Widya has consistently been published annually and provides interesting information. This continuing condition encouraged submitting the Naditira Widya for its accreditation to the Indonesian Institute of Sciences (IIS) in 2006. By the IIS Director’s letter number 44/ AKRED-LIPI/P2MBI/9/2006, the Naditira Widya was accredited grade C; this accreditation was applicable for three years from September 2006 to November 2009. In 2006, the Naditira Widya was the only accredited journal within the National Research Centre for Archaeology and its tenth archaeological institutes, and has continued to support the dissemination of archaeological research results to the public.

The Naditira Widya’s accredited status was extended in 2009 by the IIS Director’s letter number 231/AU1/P2MBI/08/2009, and graded C. However, the validity period of this second accreditation is only for one year, from 28 August 2009 to 28 August 2010, and should be re-accredited afterwards. After the accreditation was revoked in 2010, the editorial board of Naditira Widya worked hard to enable the journal to be re-accredited. New board members were assigned to improve the quality of publications. Despite the revocation of status, the Naditira Widya remains published twice a year, i.e. in April and October. In early 2016, a team was formed to reapply the Naditira Widya for an accreditation, and by the IIS Director’s letter number 715/Akred/P2MI/LIPI/04/2016 it was officially recognised since April 2016.

Prior to 2016, the Naditira Widya was published using a print system, but to maintain its status the publishing system was converted into an open-access online system or open journal system (OJS). The Naditira Widya volume 10 number 2 for October 2016 edition was going to be published online. Unfortunately, the Naditira Widya’s website was hacked; hence the publication of October 2016 edition was deferred. Following the website cleaning, the Naditira Widya was eventually issued online in November 2016. However, the impact of the hacked-system still exists and had affected some failures of the OJS functions, especially editions April and October 2017. Nevertheless, by the end of 2017, the OJS was upgraded and both editions were successfully published.