JEJAK TANTRAYANA DI SITUS BUMIAYU

Main Article Content

Sondang Martini Siregar

Abstract

Agama Hindu Buddha mengenal aliran Tantrayana. Aliran ini bersifat gaib dan diajarkan secara lisan kepada
pemeluknya. Aliran ini pernah berkembang di Nusantara dan sisa-sisa arca yang dipuja masih ditemukan di beberapa situs
di Indonesia. Aliran Tantrayana juga berkembang di situs Bumiayu. Selanjutnya, permasalahan yang muncul adalah
bagaimana penggambaran arca Tantrayana yang ada di Bumiayu. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis dan
ciri arca Tantrayana di situs Bumiayu, dan hubungannya dengan arca Tantrayana lainnya di Pulau Sumatera (Padang
Lawas dan Sungai Langsat). Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah kualitatif yang bersifat deskriptif dengan
penalaran induktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa awal perkembangan agama Hindu di Bumiayu berkisar pada abad
ke-9 Masehi, yang selanjutnya mendapat pengaruh aliran Tantrayana. Arca dengan aliran Tantrayana digambarkan dalam
bentuk menyeramkan dan memiliki hiasan tengkorak. Umat Hindu melakukan upacara Tantrayana dengan tujuan untuk
melindungi daerah Bumiayu dari serangan Raja Kertanegara yang melakukan ekspedisi Pamalayu ke Sumatera pada tahun
1275

Article Details

How to Cite
Siregar, S. M. (1). JEJAK TANTRAYANA DI SITUS BUMIAYU. Naditira Widya, 10(1), 13-24. https://doi.org/10.24832/nw.v10i1.174
Section
Articles

References

Budisantoso, Tri Marhaeni. 2000. “Analisis Candi
Bumiayu 3”. Berita Penelitian Arkeologi Balai
Arkeologi Palembang 5: 1-32.
Ferdinandus, Peter. 1993.”Peninggalan Arsitektur
dari situs Bumiayu, Sumatera Selatan”.
Amerta 13: 33-38.
Kartoatmodjo, M.M. Soekarto. 1993. Temuan
Prasasti Boom Baru di Sumatera Selatan
an Masalah Taman Sri Ksetra dari Kerajaan
Sriwjaya. Palembang: Museum Negeri
Provinsi Sumatera Selatan Balaputadewa.
Magetsari, Nurhadi. 1997. “Candi Borobudur
Rekonstruksi Agama dan Filsafatnya”.
Disertasi. Depok: Universitas Indonesia.
Satari, Sri Soejatmi. 2002. Sebuah Situs Hindu di
Sumatera Selatan: Temuan Kelompok Candi
dan Arca di Bumiayu. Jakarta: Pusat
Penelitian Arkeologi dan Ecole
Francaised’Extreme-Orient.
Siregar, Sondang M. 2001. “Tantrayana di
Sumatera”. Siddhayatra 6 (1): 7-12.
_____. 2002. “Topeng-Topeng Tanah Liat dari
Candi Bumiayu 3.” Siddhayatra 7(1): 1-4.
_____.2005. “Kompleks Percandian Bumiayu”.
Berita Penelitian Arkeologi Balai Arkeologi
Palembang 12: 1-25.
Suleiman, Satyawati. 1980. “Studi Ikonografi Masa
Sailendra di Jawa dan Sumatera”. Hlm.375-391 dalam Pertemuan Ilmiah Arkeologi
cibulan 21-25 Februari 1977. Jakarta: Pusat
Penelitian Purbakala dan Peninggalan
Nasional.
_____.1985. “Peninggalan-Peninggalan Purbakala
di Padang Lawas.” Amerta 2: 23-38.
Surasmi, I Gusti Ayu. 2007. Jejak Tantrayana di
Bali. Bali: CV Bali Media Adhikara.
Susanto, R.M. 1998. “Beberapa Bentuk Penjaga
Candi.” Berkala Arkeologi Sangkhakala III:
15-28.
Utomo, Bambang Budi. 1994. “Menyingkap
Lumpur Lematang”. Hlm. C6-1-12 dalam
Sriwijaya dalam Perspektif Arkeologi dan
Sejarah. Palembang: Pemerintah Daerah
Tingkat 1 Sumatera Selatan.
_____. 2011. Kebudayaan Zaman Klasik Indonesia
di Batanghari. Jambi: Dinas Kebudayaan
dan Pariwisata.